Berita Viral Terkini

Siasat Pemprov DKI Jakarta Renovasi Sekolah di Tengah Pemotongan Anggaran

Wahyu SuryaniPublished 26 Jul 2026 - 19.070 Reads
Bagikan WhatsAppX
Siasat Pemprov DKI Jakarta Renovasi Sekolah di Tengah Pemotongan Anggaran
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Wajah pendidikan di Daerah Khusus Jakarta kerap kali diidentikkan dengan fasilitas modern dan megah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan potret yang berbeda dan penuh tantangan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini tengah menghadapi dilema keuangan yang cukup pelik, yang berdampak langsung pada nasib puluhan gedung sekolah yang membutuhkan perbaikan total. Akibat adanya pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat serta kebijakan efisiensi anggaran internal, rencana renovasi puluhan sekolah terpaksa tersendat. Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan situasi sulit ini setelah meninjau langsung kondisi SD Negeri Kebayoran Lama 09 pada Jumat sore.

Dari target awal sebanyak 22 sekolah yang direncanakan untuk dibangun kembali pada tahun ini, keterbatasan dana membuat Pemprov DKI pada awalnya hanya mampu mengalokasikan anggaran untuk 7 sekolah saja. Pramono menjelaskan bahwa pemangkasan anggaran transfer dari pusat serta keharusan melakukan penghematan internal menjadi faktor utama di balik keputusan pahit ini. Penurunan kapasitas fiskal daerah memaksa pemerintah untuk menyaring kembali daftar proyek pembangunan yang benar-benar mendesak. Meskipun demikian, pemerintah daerah menyadari bahwa menunda perbaikan sekolah yang rusak bukanlah pilihan yang bijak karena menyangkut keselamatan para siswa.

Also Read

Strategi Baru Kemendagri dan KPK Berantas Celah Korupsi di Pemerintah Daerah

Demi menyiasati keterbatasan ini, Pemprov DKI Jakarta mengambil langkah taktis dengan memasukkan empat sekolah tambahan ke dalam daftar prioritas yang harus segera dibangun karena kondisinya dinilai sudah sangat memprihatinkan. Keempat sekolah tersebut adalah SDN Kebayoran Lama Selatan 09 dengan alokasi anggaran sebesar Rp48,1 miliyar, SMAN 102 Jakarta dengan anggaran Rp67,5 miliyar, SDN Cempaka Putih Barat 03 senilai Rp48,4 miliyar, serta proyek gabungan SDN Papanggo 01 dan TKN Papanggo 01 dengan total anggaran mencapai Rp74,1 miliyar. Secara keseluruhan, dana yang dikerahkan untuk menyelamatkan keempat sekolah kritis ini menyentuh angka sekitar Rp249 miliyar.

Menariknya, pembiayaan untuk empat sekolah prioritas tersebut tidak murni mengandalkan jalur birokrasi anggaran biasa yang cenderung lambat. Pramono memaparkan bahwa dana pembangunan tersebut bersumber dari kombinasi dana kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dari pihak swasta dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P). Langkah kreatif ini diambil karena jika harus menunggu siklus APBD reguler tahun berikutnya, proses pembahasan akan memakan waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kebijakan pengalihan dan penyesuaian anggaran langsung diputuskan demi mempercepat proses konstruksi fisik sekolah yang sudah rusak parah tersebut.

Also Read

Langkah Strategis Kemendagri dan KPK Perkuat Integritas Pemimpin Daerah

Dengan skema penyelamatan darurat ini, total ada 11 sekolah yang dipastikan mendapat penanganan renovasi pada tahun ini, yang terdiri dari 7 sekolah dari anggaran awal ditambah 4 sekolah prioritas mendesak. Sementara itu, bagi 11 sekolah lainnya yang belum sempat tersentuh perbaikan pada periode ini, Pramono memberikan jaminan bahwa proyek tersebut tidak akan dilupakan. Sekolah-sekolah yang tersisa akan digeser dan menjadi prioritas utama pembangunan pada tahun 2027 mendatang. Langkah ini mencerminkan bagaimana pemerintah daerah harus memutar otak di tengah himpitan fiskal demi memastikan hak anak-anak mendapatkan ruang belajar yang layak dan aman tetap terpenuhi.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca