Sistem koperasi yang menaungi ratusan petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali, telah terbukti mampu memberikan dampak ekonomi yang positif bagi para anggotanya. Melalui pendekatan yang terstruktur, koperasi ini tidak hanya berhasil menstabilkan harga panen kakao di tingkat petani, tetapi juga memberikan pendampingan yang sangat komprehensif. Upaya berkelanjutan ini pada akhirnya bermuara pada peningkatan daya saing komoditas pertanian lokal tersebut, hingga sukses menembus dan bersaing di pasar ekspor internasional.
Keberhasilan ekosistem pertanian ini didorong oleh kolaborasi yang erat antara Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari. Direktur Kalimajari, Agung Widiastuti, bersama dengan Ketua Koperasi Kerta Semaya Samaniya, I Ketut Wiadnyana, memimpin inisiatif pendampingan yang menyasar para petani secara langsung. Saat ini, tercatat terdapat 750 petani kakao yang telah bergabung dan aktif sebagai anggota dalam koperasi tersebut. Mereka semua mendapatkan bimbingan teknis yang intensif untuk memastikan standar produksi tetap terjaga dengan baik dari waktu ke waktu.
Dalam praktiknya, pendampingan yang diberikan oleh koperasi dan yayasan mencakup penerapan metode pertanian yang sangat terukur dan berbasis data. Sebagai langkah awal sebelum penanaman atau pemupukan, sampel tanah dari lahan milik petani diambil untuk diuji secara khusus di laboratorium. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui detail kandungan tanah secara akurat, sehingga petani dapat menentukan perlakuan atau perawatan yang paling tepat bagi pohon kakao mereka. Selain itu, para petani binaan juga menerapkan sistem pertanian organik guna mendapatkan biji kakao berkualitas yang mampu memenuhi standar internasional.
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 2.592.000 per Gram pada 15 September 2026

Ketelitian yang sama juga diterapkan secara ketat pada tahap pascapanen dan pemrosesan hasil kebun. Saat panen berlangsung, buah kakao yang tidak sehat atau yang terkontaminasi hama selalu dipisahkan dari buah yang sehat. Proses pemilahan ini memastikan bahwa hanya bahan baku terbaik yang akan masuk ke tahap pemrosesan selanjutnya. Dari proses yang konsisten ini, produk kakao fermentasi asal Jembrana kini diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Pihak koperasi pun tercatat sudah berkali-kali mengekspor komoditas pertanian ini ke berbagai negara.
Dampak nyata dari sistem koperasi dan pendampingan ini dirasakan langsung oleh para petani, salah satunya adalah Ketut Sudomo. Sebagai seorang petani kakao yang bermukim di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, ia merasakan betul manfaat dari stabilitas harga dan bimbingan teknis tersebut. Dengan mengelola lahan pertanian seluas tiga hektare, Ketut Sudomo kini mampu menghasilkan lebih dari satu ton biji kakao kering setiap tahunnya. Ia menyatakan bahwa pendampingan dari Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari tidak hanya meningkatkan kualitas biji kakao, tetapi juga secara signifikan mendongkrak volume panen.
Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu Jadi Rp2,592 Juta per Gram

Pola pengelolaan koperasi yang mengawal petani dari hulu hingga hilir ini pada akhirnya menarik perhatian banyak pihak di tingkat global. Salah satunya adalah konsorsium yang tergabung dalam program Accelerating Consumer Transformation (ACT) and Sustainability in Indonesia, sebuah inisiatif besar yang didukung langsung oleh Uni Eropa. Melalui program tersebut, penyelenggara berupaya mendorong transformasi pola konsumsi masyarakat Indonesia agar menjadi lebih sadar terhadap berbagai dampak lingkungan, ekonomi, serta sosial dari produk yang mereka gunakan.
Sebagai bagian dari pelaksanaan program ACT and Sustainability in Indonesia tersebut, Ketut Sudomo menerima kunjungan dari awak media pada hari Kamis. Kunjungan ini menjadi ajang untuk memperlihatkan secara langsung bagaimana sistem koperasi di Kabupaten Jembrana beroperasi dan membawa perubahan nyata di tingkat tapak. Dengan penerapan standar tinggi dan pendampingan yang berkelanjutan, model pengelolaan kakao Jembrana ini diharapkan dapat terus memberikan manfaat ekonomi yang stabil bagi para petani di masa mendatang.






