Sektor pariwisata memegang peranan yang sangat krusial dalam menopang sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Industri ini tidak hanya berkontribusi terhadap pendapatan negara, tetapi juga menjadi motor penggerak utama dalam penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat luas. Selain itu, geliat pariwisata secara langsung menghidupkan berbagai sektor pendukung lainnya di seluruh pelosok tanah air. Sektor-sektor yang ikut tergerak dari aktivitas pariwisata ini antara lain adalah bisnis pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sektor perdagangan, industri jasa restoran dan perhotelan, hingga sektor transportasi serta industri kreatif. Namun, di tengah peran vitalnya tersebut, industri pariwisata nasional saat ini masih harus berjuang keras menghadapi berbagai tantangan berat dalam proses pemulihan pasca-pandemi Covid-19.
Upaya pemulihan sektor pariwisata Indonesia ini menjadi sorotan utama dalam sebuah diskusi di program Squawk Box CNBC Indonesia yang ditayangkan pada hari Rabu, 29 Juli 2026. Dalam tayangan tersebut, Shania Alatas bersama Emmanuela Bungasmara Ega Tirta selaku Commodity Expert dari CNBC Indonesia Research membahas secara mendalam mengenai kondisi terkini serta arah pemulihan sektor pariwisata tanah air. Berdasarkan data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang dipaparkan oleh Emmanuela dalam kesempatan tersebut, industri pariwisata Republik Indonesia tercatat masih mengalami penurunan sebesar 4 persen jika dibandingkan dengan kondisi sebelum masa pandemi terjadi. Hal ini secara jelas mempertegas bahwa proses pemulihan industri pariwisata masih membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak.
Breaking! BI Catat Utang Luar Negeri RI Tembus US$454,8 M di Juli

Meskipun masih menghadapi penurunan dibandingkan dengan periode sebelum pandemi, data statistik kunjungan wisatawan ke Indonesia menunjukkan pergerakan yang berlanjut sepanjang tahun 2026. Hingga bulan Mei 2026, jumlah kunjungan wisata ke Indonesia tercatat telah mencapai angka 1,38 juta pengunjung. Sementara itu, jika dilihat secara keseluruhan sepanjang paruh pertama atau Semester I-2026, Indonesia berhasil mencatatkan kunjungan wisata sebanyak 6 juta kunjungan. Angka-angka ini mencerminkan dinamika pemulihan yang sedang berlangsung di sektor pariwisata secara bertahap. Kualitas kunjungan yang ada pada saat ini juga tercatat memiliki perbedaan dari sebelumnya, yang tentunya menuntut penyesuaian strategi dari para pemangku kepentingan di industri ini.
Menariknya, profil wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia saat ini menunjukkan karakteristik yang spesifik dari segi asal negara. Berdasarkan pemaparan dalam diskusi tersebut, kinerja kunjungan wisata ke Indonesia saat ini banyak didorong oleh kedatangan turis yang berasal dari Yaman dan Rusia. Kehadiran turis dari kedua negara ini memberikan warna baru dalam demografi pengunjung mancanegara di Indonesia. Di sisi lain, wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga tetap berkunjung ke Indonesia. Namun, turis dari Malaysia dan Singapura ini tercatat berkunjung untuk waktu yang singkat. Perbedaan durasi tinggal dan asal negara ini menjadi bagian dari dinamika baru yang dihadapi industri pariwisata nasional saat ini.
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 2.592.000 per Gram pada 15 September 2026

Untuk mengatasi tantangan pemulihan dan menarik lebih banyak kunjungan turis mancanegara, Indonesia dinilai bisa melihat strategi pengembangan pariwisata dari negara lain, seperti Jepang maupun Arab Saudi. Secara khusus, Indonesia bisa melihat strategi pengembangan pariwisata dari negara Jepang yang terbukti efektif. Negara tersebut dinilai mampu menarik kunjungan turis dengan cara mempermudah sistem dan informasi pariwisata. Dengan menyederhanakan akses informasi serta mempermudah sistem pariwisata, diharapkan ada pelajaran berharga yang bisa diambil untuk diterapkan di dalam negeri. Langkah-langkah strategis seperti ini dipandang perlu untuk terus dieksplorasi guna mendorong kembali pariwisata sebagai salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.






