Pemerintah Malaysia memutuskan untuk menambah kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi masyarakatnya. Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk meredakan tekanan biaya hidup yang dirasakan publik di tengah ketidakpastian harga minyak global.
Penambahan alokasi BBM bersubsidi tersebut dijalankan melalui Program Budi MADANI RON95 (BUDI95). Melalui skema ini, kuota BBM subsidi dinaikkan kembali menjadi 300 liter per bulan untuk setiap individu yang memenuhi syarat, setelah sebelumnya berada di angka 200 liter per bulan.
Langkah ini sekaligus memulihkan kuota subsidi yang sempat dikurangi beberapa waktu sebelumnya. Pada 26 Maret lalu, pemerintah mengumumkan penyesuaian kuota BUDI95 dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan mulai 1 April 2026 sebagai imbas dari eskalasi konflik di Asia Barat. Kini, alokasi tersebut dikembalikan ke batas kuota semula guna memperkuat daya beli masyarakat.
UMKM Terdampak Kebakaran Desa Sade Bakal Dapat Bantuan

Selain menaikkan jatah volume BBM jenis bensin, Pemerintah Malaysia tetap mempertahankan harga BBM RON95 bersubsidi pada level RM1,99 per liter. Program bantuan bahan bakar ini tidak hanya menyasar pengguna bensin, melainkan juga kendaraan berbahan bakar solar. Lebih dari setengah juta pemilik kendaraan pikap dan jip diesel yang memenuhi kriteria akan menerima kuota hingga 400 liter Budi Diesel per bulan.
Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim menyatakan bahwa keputusan penambahan kuota ini akan memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 16 juta pengguna RON95 bersubsidi di seluruh negeri. Anwar menjelaskan bahwa kenaikan kuota BUDI95 dan BUDI Diesel diambil tanpa menunggu penyampaian anggaran 2027 pada bulan Oktober, karena tekanan akibat lonjakan biaya hidup masyarakat memerlukan penanganan yang mendesak.
Putra Netanyahu yang Hidup Mewah di AS Dievakuasi Darurat ke Israel

Kementerian Keuangan Malaysia menjelaskan bahwa kebijakan penambahan kuota subsidi BBM ini mulai berlaku resmi per 1 September. Subsidi bensin dan diesel menjadi bentuk bantuan yang dinikmati hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok kelas menengah (M40) dan kelompok berpendapatan tinggi (T20). Untuk menyokong keseluruhan program subsidi bahan bakar tersebut, total biaya yang ditanggung oleh Pemerintah Malaysia mencapai hingga RM40 miliar.






