Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) kini tidak lagi berpusat pada proyek-proyek berskala besar di kawasan industri, melainkan telah menyentuh langsung denyut nadi perekonomian masyarakat di berbagai pelosok Nusantara. Melalui inisiatif Desa Energi Berdikari (DEB), PT Pertamina (Persero) mendorong transisi energi dari tingkat akar rumput untuk menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus menekan emisi karbon. Tercatat hingga Mei 2026, program ini telah membawa manfaat langsung bagi sekitar 283 ribu jiwa di seluruh Indonesia dan berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca lebih dari 1 juta ton CO2 ekuivalen setiap tahunnya. Inisiatif ini membuktikan bahwa akses energi bersih mampu mengubah potensi lokal menjadi peluang ekonomi yang nyata sekaligus mendukung target nasional menuju Net Zero Emission 2060.
Dampak nyata dari elektrifikasi ramah lingkungan ini sangat dirasakan oleh para pelaku sektor pertanian dan perikanan. Di Desa Sobokerto, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) digunakan untuk menggerakkan pompa air yang mengairi lahan pertanian. Fasilitas ini membebaskan petani dari ancaman gagal panen saat musim kemarau panjang tiba. Khoirul, seorang petani setempat, menuturkan bahwa sebelum adanya bantuan pengairan tersebut, warga hanya sanggup menanami sekitar 20 persen dari total luasan lahan yang ada akibat kekeringan. Transformasi serupa terjadi di Desa Rawa Meneng, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ikan-ikan kecil atau ikan rucah hasil tangkapan nelayan yang dulunya dibuang dan membusuk menjadi limbah, kini diolah menjadi tepung ikan bernutrisi tinggi untuk pakan unggas. Ketua KUD Mina Karya Baru, Karyono, mengungkapkan bahwa penggunaan mesin pengering bertenaga surya membuat biaya produksi pengolahan limbah ikan ini menjadi jauh lebih hemat dan efisien.








