Berita Viral Terkini

Trump Peringatkan Cina dan Rusia untuk Tidak Ikut Campur Konflik AS dengan Iran

Yolanda TobanPublished 26 Jul 2026 - 16.260 Reads
Bagikan WhatsAppX
Trump Peringatkan Cina dan Rusia untuk Tidak Ikut Campur Konflik AS dengan Iran
Foto/Ilustrasi: tirto.id.
A-A+

Peta kekuatan geopolitik global kembali diuji di tengah meningkatnya eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Di tengah situasi yang kian panas tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memilih untuk melemparkan peringatan terbuka dan keras kepada dua raksasa dunia, yakni Cina dan Rusia. Trump menegaskan bahwa konsekuensi yang bakal dihadapi oleh Beijing maupun Moskow akan menjadi "sangat buruk" apabila kedua negara itu secara berani memutuskan untuk ikut campur atau memberikan sokongan militer kepada Teheran.

Pernyataan bernada ancaman tersebut disampaikan Trump atas dasar keyakinannya terhadap diplomasi langsung yang telah ia jalani bersama para pemimpin tertinggi kedua negara rival tersebut. Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Jumat (24/7/2026), Trump mengungkapkan isi pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden Cina, Xi Jinping, dalam pertemuan mereka di Beijing baru-baru ini. Dalam kesempatan itu, Xi disebut telah menyampaikan janji secara langsung bahwa Cina tidak akan pernah mendistribusikan ataupun menjual persenjataan kepada Republik Islam Iran. Trump menggarisbawahi bahwa komitmen tersebut mengikat secara menyeluruh, termasuk bagi korporasi-korporasi swasta maupun milik negara yang berbasis di Cina.

Tak hanya menyasar Cina, Trump mengklaim telah menggenggam janji serupa dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang berkomitmen untuk tidak menyuplai peralatan perang ke wilayah Teheran. Saat memberikan keterangan kepada awak media di Gedung Putih, Trump mengekspresikan rasa percayanya kepada Xi dan Putin, seraya menegaskan belum melihat adanya tanda-tanda konkrit mengenai bantuan militer dari kedua negara itu. Namun, di balik rasa percaya tersebut, Trump menyisipkan sinyal bahaya yang jelas. Ia memperingatkan bahwa keputusan untuk melangkah masuk ke dalam arena konflik hanya akan membawa dampak kehancuran yang sangat buruk dan jelas-jelas bertentangan dengan kepentingan nasional terbaik bagi Cina maupun Rusia.

Also Read

Basarnas Hentikan Sementara Pencarian 14 Korban KM Nurul Salsa di Selayar

Kendati demikian, sikap percaya diri dan optimisme diplomasi yang dipamerkan oleh Trump berhadapan langsung dengan fakta yang disampaikan oleh jajaran pejabat pertahanannya sendiri. Awal pekan ini, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memberikan kesaksian di hadapan Senat dengan sudut pandang yang jauh berbeda. Tanpa membeberkan rincian teknis yang sangat spesifik, Hegseth menyatakan bahwa Cina dan Rusia sebenarnya sudah terlibat dalam ketegangan tersebut pada tingkat tertentu. Menurutnya, kedua negara itu turut memungkinkan serta menyokong berbagai manuver dan tindakan yang diambil Iran selama konflik berlangsung.

Dugaan mengenai sokongan terselubung tersebut diperkuat oleh temuan intelijen Amerika Serikat. Merujuk pada keterangan empat sumber yang memahami laporan intelijen AS, serangan Iran yang menyasar target CIA di kawasan Teluk pada masa awal konflik telah memicu penyelidikan serius dari pihak Washington. Penyelidikan tersebut berfokus pada kemungkinan adanya kontribusi nyata dari Rusia, mulai dari penyediaan teknologi pesawat nirawak (drone) canggih hingga data intelijen untuk penargetan posisi sasaran. Saat dimintai konfirmasi mengenai temuan ini pada Kamis (23/7/2026), pihak Kremlin memilih untuk menolak memberikan komentar atau klarifikasi apa pun.

Also Read

Ujian Perdana Kamboja Melawan Dominasi Singapura di Piala AFF 2026

Langkah tegas dan kewaspadaan tinggi yang ditunjukkan AS terhadap peran Rusia dan Cina dalam menyokong Teheran sejatinya bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Sebelumnya, pemerintah AS sudah berulang kali merilis sanksi terhadap sejumlah individu maupun perusahaan di Rusia dan Cina yang terbukti membantu Iran dalam pengadaan teknologi senjata. Kini, di tengah konflik yang makin meruncing, peringatan keras Trump menjadi ujian nyata bagi diplomasi bilateral sekaligus penentu arah konfrontasi global di masa mendatang.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca