Pemerintah Venezuela mengonfirmasi bahwa kesepakatan kerja sama sektor perminyakan yang dijalin bersama Amerika Serikat dirancang untuk jangka panjang dan akan berlaku selama 25 tahun. Melalui kemitraan strategis ini, Venezuela membidik peningkatan produksi minyak mentah harian hingga melampaui 1,5 juta barel.
Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, menjelaskan bahwa proyek tersebut berfokus pada pengembangan delapan ladang minyak mentah di kawasan Sabuk Minyak Orinoco. Wilayah kaya cadangan energi tersebut membentang seluas lebih dari 55 ribu kilometer persegi di bagian timur hingga timur-tengah Venezuela.
Dalam skema kerja sama ini, pihak Amerika Serikat akan memasok kebutuhan modal, transfer teknologi, serta kapasitas operasional demi mempercepat pemulihan infrastruktur energi Venezuela. Dari sisi fiskal, perjanjian ini menetapkan skema royalti minimal sebesar 16 persen dan pengenaan pajak penghasilan sebesar 34 persen.
Laba Emiten BUMN Farmasi Ini Melejit 542,43%, Ini Penyebabnya

Rodriguez merinci bahwa secara konkret, kas negara Venezuela akan menerima pemasukan langsung sekitar 19 dolar AS dari setiap barel minyak yang diproduksi dan dijual. Jika mengacu pada asumsi harga minyak dunia sebesar 65 dolar AS per barel, proyeksi total pendapatan yang dapat dikantongi Caracas diperkirakan mencapai 209,335 miliar dolar AS selama masa kontrak berjalan.
Di tengah pembagian porsi operasional tersebut, Rodriguez menegaskan kedaulatan negara atas kekayaan alam tetap terlindungi. Venezuela dipastikan memegang penuh kepemilikan sumber daya yang dikelola di bawah perjanjian ini.
Tak Berizin, OJK Stop Usaha Dua Platform Pedagang Kripto

Sebelumnya, mantan Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Jumat (28/8) menyatakan bahwa AS telah merampungkan kesepakatan yang mengamankan kendali mayoritas atas cadangan minyak lebih dari 65 miliar barel. Trump bahkan melabeli perjanjian bilateral tersebut sebagai kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia. Sejalan dengan itu, Marco Rubio menyebut kemitraan ini sebagai kemenangan bagi kedua belah pihak yang berpotensi menarik investasi swasta hingga mendekati 100 miliar dolar AS ke Venezuela.
Sebagai langkah lanjutan, Rodriguez menuturkan bahwa Caracas tidak berniat berhenti pada kesepakatan awal ini. Dilansir Anadolu Agency, pemerintah Venezuela berencana memperluas kolaborasi dengan menandatangani kesepakatan skala besar bersama sejumlah perusahaan energi multinasional, seperti Chevron, Repsol, Eni, Shell, dan BP, guna merealisasikan ambisi negara tersebut menjadi kekuatan energi utama.






