Eskalasi konflik bersenjata di jalur perairan Timur Tengah kembali memakan korban jiwa dari kalangan pelaut sipil asal Indonesia. Sebuah kapal kargo bernama MV Tihamah yang sedang berlayar di kawasan Selat Bab el-Mandeb, Yaman, menjadi sasaran serangan kelompok milisi Houthi pada Selasa (11/8/2026). Insiden tersebut mengakibatkan satu warga negara Indonesia (WNI) meninggal dunia dan melukai beberapa awak kapal lainnya. Kelompok milisi Houthi sendiri telah mengklaim tanggung jawab atas serangan terhadap kapal Arab Saudi di kawasan perairan tersebut.
Berdasarkan rincian kejadian, kapal MV Tihamah diserang sebanyak tiga kali, yang menyebabkan total enam korban tewas dan sepuluh orang luka-luka. Di antara korban tewas tersebut, tiga orang merupakan awak kapal berkewarganegaraan Pakistan, sementara empat warga Pakistan lainnya mengalami luka-luka. Terkait kondisi kru asal Indonesia, dua orang ABK WNI dilaporkan selamat, sedangkan satu orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah serangan pesawat nirawak atau drone Houthi di Selat Bab Al Mandeb. Atas peristiwa ini, Pemerintah Pakistan mengecam keras serangan Houthi terhadap kapal komersial di Laut Merah tersebut karena dinilai melanggar hukum internasional.
Menyikapi kejadian tragis ini, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) langsung mengambil tindakan. Pemerintah Indonesia saat ini sedang mempersiapkan proses pemulangan bagi para ABK WNI yang berhasil selamat dari serangan drone Houthi pada kapal MV Tihamah di Yaman tersebut.
Pemerintah Alokasikan Rp4,14 Triliun untuk Program Magang Nasional Angkatan 2

Insiden ini juga memicu reaksi keras dari parlemen. Melalui keterangan tertulisnya pada Rabu (12/8/2026), Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Iman Sukri, mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menerbitkan peringatan perjalanan (travel warning) ke kawasan konflik di Timur Tengah. Menurut Iman Sukri, eskalasi konflik bersenjata di jalur perairan Timur Tengah, mulai dari Selat Bab el-Mandeb hingga Selat Hormuz, kini semakin membahayakan keselamatan para pelaut sipil yang melintas di sana.
Lebih lanjut, Iman Sukri mendesak Kementerian Luar Negeri untuk memberikan perlindungan penuh secara cepat. Perlindungan tersebut mencakup pendampingan medis bagi korban luka-luka hingga fasilitasi pemulangan jenazah WNI yang tewas ke Tanah Air. Ia juga meminta pemerintah untuk mengawal pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan serta asuransi bagi para pelaut WNI yang menjadi korban dalam insiden penyerangan tersebut.
Pemerintah Finalisasi Rencana Subsidi KRL Jabodetabek Berbasis NIK dan Akselerasi Jalur Cikampek

Di luar peristiwa di Yaman, musibah yang menimpa WNI di luar negeri juga terjadi di Jepang. Seorang WNI berusia 20 tahun bernama Keiko Altaira Hanafi ditemukan tewas akibat ditikam di dalam apartemennya di Hamamatsu, Jepang. Pihak kepolisian Jepang saat ini sedang melakukan penyelidikan untuk mencari potensi keterkaitan antara kematian Keiko dengan seorang pria yang tewas tertabrak kereta. Di samping itu, otoritas setempat melaporkan bahwa hingga hari Kamis pukul 15.00, setidaknya terdapat 55 korban tewas dalam insiden lain, yang meliputi dua pekerja rumah tangga (PRT) asal Indonesia serta seorang petugas pemadam kebakaran berusia 37 tahun.
Sementara itu, di sektor ekonomi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan harapannya terkait penilaian pasar modal Indonesia. OJK berharap agar MSCI dapat secara adil menilai tingkat transparansi pasar Indonesia guna mendukung perkembangan industri keuangan domestik.






