Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada Senin (27/7/2026) tidak serta-merta memicu aksi jual panik di lantai bursa. Pelaku pasar saham domestik merespons kabar tersebut dengan relatif tenang, seiring langkah cepat pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas Gubernur BI. Kepastian transisi kepemimpinan ini membuat investor memilih sikap menanti arah kebijakan moneter selanjutnya, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu memangkas mayoritas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.
Kendati pasar secara umum terhindar dari kepanikan masif, investor asing terpantau melakukan penyesuaian portofolio pada paruh pertama perdagangan. Sepanjang sesi satu, tercatat aksi jual bersih asing atau net foreign sell mencapai Rp293,41 miliar di seluruh pasar. Angka ini merupakan hasil dari total nilai jual sebesar Rp2,47 triliun yang melampaui nilai beli senilai Rp2,17 triliun. Tekanan jual asing paling besar menimpa saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan nilai Rp135,65 miliar. Menyusul di belakangnya adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp71,46 miliar, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) Rp41,82 miliar, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) Rp38,52 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp29,88 miliar.
KAI Targetkan Perawatan Tujuh Trainset KRL iE305 Rampung hingga 9 Oktober

Dinamika pergantian pucuk pimpinan bank sentral ini memang sempat menciptakan volatilitas harian yang cukup tajam. IHSG sempat terperosok ke titik terendah 6.144,27 pada jam perdagangan, sebelum perlahan bangkit mendekati level psikologis 6.200. Indeks akhirnya ditutup pada posisi 6.185,78, atau hanya terkoreksi tipis 0,17% (10,65 poin). Pada titik tertingginya, indeks bahkan sempat menyentuh level 6.219,42. Aktivitas transaksi harian tercatat mencapai Rp12,09 triliun, melibatkan 25,92 miliar lembar saham yang berpindah tangan dalam 1,79 juta kali transaksi. Pergerakan saham di bursa tampak bervariasi dengan 360 saham melemah, 318 saham menguat, dan 287 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Respons sektoral terhadap dinamika ini menunjukkan pola yang menarik. Mengacu pada data Refinitiv, sektor keuangan yang biasanya sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter justru tampil sebagai penopang utama bursa dengan penguatan tertinggi sebesar 0,38%. Tren positif ini diikuti oleh sektor konsumer non-primer yang mencatatkan kenaikan 0,17%. Di kutub yang berlawanan, sektor utilitas menjadi beban terberat bagi indeks setelah merosot 1,88%. Tekanan juga datang dari sektor properti yang turun 0,77%, disusul oleh pelemahan pada sektor kesehatan dan industri yang masing-masing terkoreksi 0,45%, serta sektor energi yang susut 0,31%.
INKA Respons Arahan BP BUMN, Percepat Pembenahan Menyeluruh

Dari kacamata pergerakan saham individu, laju pemulihan IHSG banyak ditopang oleh saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang menyumbang 5,33 poin terhadap indeks. Dukungan tambahan datang dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 2,30 poin, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) 1,74 poin, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) 1,57 poin, dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) 1,36 poin. Sementara itu, pelemahan indeks tertahan agar tidak jatuh lebih dalam meskipun mendapat tekanan signifikan dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang menggerus 5,21 poin. Beban indeks lainnya disumbangkan oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 3,49 poin, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) 3,11 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 2,76 poin, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 2,49 poin.






