Berita Viral Terkini

Kebijakan Tarif Trump dan Lonjakan Harga Minyak Guncang IHSG

Togar SiregarPublished 25 Jul 2026 - 10.380 Reads
Bagikan WhatsAppX
Kebijakan Tarif Trump dan Lonjakan Harga Minyak Guncang IHSG
Ilustrasi Ekonomi. Foto: Detik - Finance.
A-A+

Pasar saham dalam negeri kembali merasakan dinginnya angin geopolitik global pada penutupan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa harus gigit jari setelah ditutup melemah signifikan pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari kebijakan proteksionisme baru Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump serta situasi Timur Tengah yang kian memanas. Kombinasi faktor eksternal tersebut langsung memicu kepanikan di lantai bursa domestik sejak pembukaan hingga penutupan pasar.

Merujuk pada data transaksi dari RTI Business, IHSG terperosok cukup dalam dengan koreksi sebesar 1,88 persen ke level 6.196,43. Pelemahan ini juga diikuti oleh indeks saham papan utama LQ45 yang merosot hingga 1,97 persen pada akhir sesi perdagangan sore. Sentimen buruk global ini membuat mayoritas saham berguguran. Tercatat ada 587 saham yang tertekan di zona merah, berbanding terbalik dengan hanya 104 saham yang mampu menguat, sementara 105 saham lainnya bertahan stagnan tanpa mengalami perubahan harga.

Pemicu utama kecemasan para pemodal kali ini adalah kebijakan tarif impor baru yang diumumkan oleh Amerika Serikat. Pemerintah AS berencana mengenakan tarif tambahan berkisar antara 10 persen hingga 12,5 persen terhadap 60 negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan yang beredar, pengenaan tarif ini menyasar negara-negara yang dianggap memiliki celah atau kelemahan dalam menegakkan aturan larangan terhadap barang-barang yang diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa. Kebijakan proteksionis ini dinilai berpotensi mengganggu kinerja ekspor nasional ke Negeri Paman Sam.

Also Read

Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Beban IHSG semakin berat karena investor juga harus mengantisipasi dampak dari ketegangan geopolitik yang terus membara di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan tersebut berhasil mengerek harga minyak mentah dunia hingga melampaui level 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi global ini memicu kekhawatiran baru mengenai potensi lonjakan inflasi di berbagai negara. Jika inflasi kembali tidak terkendali, bank-bank sentral global kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk periode yang lebih lama guna meredam laju harga.

Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, para pelaku pasar akhirnya memilih untuk melakukan aksi ambil untung demi mengamankan portofolio mereka. Sektor saham cyclical menjadi sektor yang paling terpukul dengan penurunan terdalam mencapai 3,04 persen. Padahal, pada awal pekan ini IHSG sempat menunjukkan taji dengan menembus level psikologis 6.400 secara intraday. Namun, tekanan jual yang masif pada hari Jumat akhirnya menyapu bersih keuntungan yang sempat diraih tersebut.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Secara analisis teknikal, posisi IHSG saat ini ditutup di bawah rata-rata pergerakan lima hari (MA5), namun posisinya masih mampu bertahan di atas level MA10. Indikator histogram MACD terpantau terus mengalami penyempitan area positif, sementara Stochastic RSI menunjukkan adanya pembalikan arah menuju area pivot. Apabila harga minyak mentah dunia terus bertahan di level tinggi pada hari-hari mendatang, indeks saham domestik diperkirakan akan menghadapi ujian berat berikutnya dengan potensi koreksi lebih lanjut ke kisaran level 6.000 hingga 6.100 pada pekan depan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca