Insiden bentrokan antarwarga yang terjadi di Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, membawa dampak buruk bagi pelaku usaha kecil di sekitarnya. Salah satu korban dari peristiwa tersebut adalah Rita, seorang pedagang nasi uduk yang biasa berjualan di kawasan tersebut. Gerobak yang ia gunakan untuk mengais rezeki mengalami kerusakan parah karena lokasi lapaknya berada tepat di titik pusat pertikaian. Kondisi ini seketika menghentikan aktivitas perniagaannya dan memunculkan kekhawatiran mendalam mengenai kelangsungan hidup keluarganya. Usaha berjualan makanan itu merupakan satu-satunya tumpuan utama perekonomian rumah tangganya, terlebih saat ini sang suami sedang membutuhkan biaya untuk menjalani pengobatan medis secara rutin pascaoperasi.
Perempuan yang akrab disapa Teteh Rita ini mengakui bahwa dirinya sempat merasa sangat pesimistis mengenai masa depan usahanya. Hancurnya sarana berdagang akibat konflik warga membuat ia ragu apakah masih ada kesempatan untuk kembali mencari nafkah. Ia mengungkapkan keheranannya atas peristiwa kekerasan yang terjadi tepat di tempatnya mencari makan. Bahkan, perasaan waswas dan ketakutan masih menyelimuti benaknya karena titik lokasi dagangnya identik dengan area bentrokan. Meski diliputi rasa cemas terhadap potensi keributan susulan, ia memilih untuk memasrahkan seluruh nasib dan jalan hidupnya kepada Tuhan.








