Dinamika geopolitik global kembali mengguncang pasar energi dunia, ditandai dengan lonjakan harga minyak mentah yang sempat menembus level 100 dolar AS per barel. Situasi ini langsung direspons oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menginstruksikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menghitung ulang daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Langkah cepat ini diambil guna memastikan bahwa kas negara tetap kokoh menghadapi berbagai skenario terburuk akibat fluktuasi harga komoditas global tersebut.
Di tengah kekhawatiran masyarakat akan dampak kenaikan harga minyak terhadap biaya hidup, pemerintah memberikan jaminan penting. Menteri Keuangan Purbaya menegaskan bahwa tidak akan ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Komitmen ini menjadi prioritas utama kabinet untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Upaya perlindungan sosial melalui stabilitas harga energi domestik tetap dipertahankan meskipun tekanan fiskal eksternal kian meningkat.
Instruksi dari Presiden Prabowo berfokus pada pembuatan simulasi anggaran dengan berbagai skenario harga minyak mentah yang berbeda. Sebelumnya, Kementerian Keuangan telah mengalkulasi dampak berdasarkan asumsi dasar di level 100 dolar AS per barel. Namun, menyadari ketidakpastian global yang sangat tinggi, Presiden meminta agar simulasi diperluas ke angka-angka alternatif, baik di atas maupun di bawah batas tersebut. Proses penghitungan ulang ini sedang berjalan intensif untuk merumuskan mitigasi risiko fiskal yang paling tepat.
Investor Domestik Topang IHSG di Tengah Aksi Jual Asing

Pergerakan harga minyak mentah dunia memang menunjukkan volatilitas yang tinggi. Pada penutupan perdagangan hari Kamis (23/7), minyak mentah Brent sempat melonjak signifikan sebesar 7 persen hingga melampaui level 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Meskipun pada perdagangan hari Jumat (24/7/2026) Brent mengalami koreksi tipis sebesar 0,72 persen menjadi 99,97 dolar AS per barel, komoditas ini tetap mencatatkan kenaikan mingguan yang cukup besar yakni 13,5 persen. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi 91,49 dolar AS per barel setelah turun 0,76 persen, namun masih berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 10,9 persen.
Ketegangan di jalur pelayaran internasional menjadi pemicu utama kecemasan pasar global ini. Ada kekhawatiran mendalam bahwa konflik bersenjata dapat mengganggu atau bahkan menutup jalur pelayaran Bab el-Mandeb. Jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia ini merupakan rute pengiriman minyak paling vital kedua di dunia setelah Selat Hormuz. Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan komitmennya untuk meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan lanjutan di kawasan strategis tersebut.
Pemerintah Pastikan TNI dan Polri Tidak Memiliki Wewenang Menagih Pajak

Melalui simulasi yang komprehensif ini, pemerintah Indonesia berusaha bersikap proaktif ketimbang reaktif. Dengan memetakan dampak harga minyak terhadap APBN secara cermat, Kementerian Keuangan diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional tanpa harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Langkah antisipatif ini menjadi sinyal penting bahwa Indonesia siap mengarungi ketidakpastian ekonomi global dengan persiapan yang matang.






