Kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menyentuh level psikologis US$100 per barel di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan menyusul serangan yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah. Data Reuters mencatat harga minyak mentah Brent naik 0,1 persen ke posisi US$101,34 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,5 persen ke level US$96,55 per barel.
Merespons tren kenaikan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki ruang yang cukup memadai untuk menyerap tekanan lonjakan harga komoditas energi tersebut.
Purbaya memaparkan, berdasarkan simulasi dengan asumsi harga minyak sekitar US$100 per barel, defisit APBN diproyeksikan berada di angka 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut dinilai masih aman dan sesuai dengan koridor disiplin fiskal yang ditetapkan pemerintah.
Luhut Targetkan Uji Coba Rekening Bansos Kuartal I 2027

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengelola belanja dan pendapatan negara agar tetap berkesinambungan, dengan patokan defisit yang dijaga ketat di bawah 3 persen. Keyakinan ini didukung oleh posisi fiskal yang masih relatif solid, di mana realisasi defisit baru mencapai 0,91 persen dan berada pada kisaran 0,95 persen selama rentang Juli hingga Agustus.
Selain posisi defisit yang terkendali, rata-rata harga minyak mentah dunia yang dibayarkan dalam perhitungan asumsi APBN sejauh ini tercatat masih berada di bawah US$90 per barel. Selisih ini memberikan bantalan fiskal yang cukup longgar bagi kas negara dalam menghadapi dinamika pasar energi global.
Setoran Pajak Capai Rp 1.224,3 Triliun hingga Juli 2026, Kemenkeu Lakukan Perombakan Pejabat

Terkait kebijakan energi dalam negeri, pemerintah belum berencana menambah kuota subsidi energi meski harga internasional merangkak naik. Purbaya menegaskan bahwa daya beli masyarakat umum dipastikan tetap terjaga karena jenis BBM penugasan seperti Pertalite tetap mendapatkan skema subsidi pemerintah.






