Peluang nilai tukar rupiah untuk menguat ke level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai cukup realistis dalam jangka pendek. Posisi rupiah yang berada di kisaran Rp17.600 memberi ruang untuk pengujian level tersebut, meski keberlanjutannya sangat bergantung pada sejumlah indikator eksternal dan domestik.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menyampaikan bahwa pergerakan mata uang Garuda menuju Rp17.500 dalam waktu dekat merupakan skenario yang masuk akal. Namun, reli apresiasi tersebut membutuhkan pemenuhan empat syarat utama di pasar keuangan dan komoditas global.
4 Syarat Penguatan Menuju Rp17.500
Menurut kalkulasi Bank Permata, penguatan rupiah hingga menembus level psikologis baru memerlukan kombinasi faktor pasar yang kondusif. Keempat syarat tersebut mencakup:
DSI Ungkap Nilai Ekspor 3 Komoditas RI Capai US$ 70 Miliar

- Arus modal asing berkelanjutan: Aliran dana masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus berlanjut. Penguatan akan lebih solid jika porsi masuknya dana asing ke SBN semakin membesar dan tidak hanya bertumpu pada instrumen SRBI.
- Kekuatan dolar AS tertahan: Indeks dolar AS tidak kembali mengalami penguatan tajam atau rebound agresif di pasar global.
- Stabilitas harga minyak: Komoditas minyak mentah dunia berada dalam tren stabil dan tidak mengalami lonjakan harga baru yang dapat membebani impor migas.
- Kredibilitas kebijakan moneter: Pelaku pasar tetap meyakini Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas nilai tukar domestik tanpa perlu mengambil langkah pengetatan berupa kenaikan suku bunga tambahan.
Josua memperkirakan rentang Rp17.500 hingga Rp17.550 per dolar AS dapat diuji dalam beberapa pekan mendatang apabila syarat-syarat tersebut terpenuhi secara konsisten.
Tantangan Titik Keseimbangan dan Proyeksi Akhir Tahun
Kendati potensi penguatan terbuka, level Rp17.500 belum bisa diposisikan sebagai titik keseimbangan baru bagi mata uang domestik. Ketidakpastian global masih membayangi, khususnya terkait dinamika harga komoditas energi yang belum menetap di level stabil.
Josua mengingatkan bahwa rupiah rentan melemah kembali ke rentang Rp17.700 hingga Rp17.900 per dolar AS jika harga minyak kembali naik atau ekspektasi pasar terhadap pengetatan suku bunga AS menguat. Agar rupiah mampu bertahan di bawah Rp17.500 secara permanen, perekonomian membutuhkan perbaikan transaksi berjalan yang lebih solid serta pasokan devisa domestik yang melimpah.
Wisatawan Meningkat, Bisnis Perhotelan Perlu Sesuaikan Diri dengan Perubahan Permintaan

Dari sudut pandang berbeda, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual menyoroti adanya ruang pergerakan rupiah menuju Rp16.000 per dolar AS pada kuartal III-2026. Kendati demikian, neraca berjalan Indonesia masih berpotensi menghadapi tekanan akibat harga minyak mentah yang relatif tinggi.
Untuk horizon hingga akhir 2026, David memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.800 sampai Rp18.100 per dolar AS. Proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang mengerek suku bunga acuannya setidaknya satu kali guna meredam risiko inflasi yang masih membayangi AS.






