Rentetan tembakan gencar dan ledakan keras memecah keheningan ibu kota Niger, Niamey, pada Sabtu (29/8/2026) dini hari. Serangan terkoordinasi tersebut dilaporkan menyasar sejumlah instalasi strategis di pusat pemerintahan, mulai dari pangkalan militer, bandara internasional, hingga perimeter kompleks kepresidenan.
Berdasarkan keterangan sumber keamanan kepada Reuters, kelompok penyerang yang diidentifikasi sebagai teroris melancarkan aksi ke Bandara Internasional Diori Hamani di Niamey. Pada saat bersamaan, para pelaku juga berupaya menembus perimeter pengamanan di sekitar kompleks istana kepresidenan.
Selain kedua lokasi tersebut, fasilitas militer utama Base 101 turut menjadi sasaran pertempuran. Anggota Biro Dewan Konsultatif Niger sekaligus anggota parlemen Aliansi Negara-Negara Sahel (Alliance of Sahel States/AES), Bana Wagana Ibrahim, mengonfirmasi lewat unggahan media sosial bahwa pangkalan militer Base 101 sempat diserang sebelum aparat berhasil menguasai kembali situasi di lapangan.
Anak Mantan Presiden Ditangkap, Terseret Kasus Korupsi Pembelian Pesawat Airbus

Sumber keamanan kedua melaporkan bahwa sebagian penyerang telah dilumpuhkan oleh pasukan keamanan setempat. Sementara itu, sebagian anggota kelompok lainnya dilaporkan melarikan diri, memicu aparat keamanan melancarkan operasi pengejaran dan penyisiran skala luas di wilayah ibu kota.
Situasi Keamanan dan Ketegangan Regional
Ibu kota Niamey sebelumnya telah mengalami serangkaian insiden keamanan. Pada Januari tahun ini, aksi serangan tercatat terjadi di area sekitar bandara internasional. Dua bulan berselang, tepatnya pada Maret, rangkaian serangan kelompok bersenjata di wilayah barat daya Niger menewaskan setidaknya 44 warga sipil.
Secara geopolitik, Niger berada di bawah kepemimpinan junta militer pimpinan Jenderal Abdourahamane Tiani menyusul penggulingan Presiden Mohamed Bazoum melalui kudeta pada Juli 2023. Sejak pergantian kekuasaan tersebut, pemerintahan baru memutus sejumlah kemitraan dengan negara-negara Barat dan memilih mempererat hubungan bilateral dengan Rusia.
Belajar dari Pengalaman, Tetangga RI Siap-Siap Lawan Kebakaran Hutan

Niger juga telah menarik diri dari blok regional Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) lalu membentuk pakta pertahanan Aliansi Negara-Negara Sahel bersama Mali dan Burkina Faso. Ketiga negara bertetangga tersebut hingga kini terus menghadapi tekanan dari pemberontakan bersenjata yang terafiliasi dengan al Qaeda serta Islamic State.
Di samping dinamika konflik bersenjata, situasi politik dalam negeri Niger diwarnai perombakan kebijakan ekonomi dan sumber daya alam. Pekan lalu, pemerintah Niger menerbitkan dekret pengalihan izin pertambangan uranium yang sebelumnya dikelola oleh Orano dan GoviEx kepada badan usaha yang didukung negara. Sebelum penyitaan aset dilakukan sekitar tahun 2024, produksi Niger menyumbang sekitar 15 persen pasokan uranium bagi perusahaan Prancis tersebut saat beroperasi dalam kapasitas penuh.






