Berita Viral Terkini

Sikap Santai Washington Hadapi Rencana Penghapusan Pemilu di Nikaragua

Bambang HandayaniPublished 25 Jul 2026 - 22.550 Reads
Bagikan WhatsAppX
Sikap Santai Washington Hadapi Rencana Penghapusan Pemilu di Nikaragua
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Dalam peta geopolitik Washington, tidak semua rezim otoriter diperlakukan setara. Ketika Amerika Serikat mengambil langkah agresif untuk menekan Kuba dan Venezuela, Nikaragua justru mendapatkan perlakuan yang relatif lebih lunak. Padahal, Presiden Daniel Ortega baru-baru ini secara terang-terangan menyatakan niatnya untuk mengakhiri sistem pemilihan umum di negaranya. Keengganan Gedung Putih untuk segera memperketat sanksi atau melakukan intervensi langsung menunjukkan adanya perhitungan strategis yang pragmatis sekaligus tebang pilih dalam diplomasi luar negeri Paman Sam.

Faktor utama di balik sikap santai ini adalah rendahnya nilai strategis Nikaragua dibanding tetangganya di Amerika Latin. Kai Thaler, seorang akademisi studi global dari Universitas California, Santa Barbara, menjelaskan bahwa bagi politisi AS seperti Marco Rubio, isu Kuba jauh lebih krusial. Selain itu, Nikaragua tidak memiliki daya tarik ekonomi berupa cadangan minyak melimpah seperti yang dimiliki Venezuela. Hal ini membuat isu Nikaragua kerap tergeser ke baris belakang dalam daftar prioritas kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Also Read

Menteri Pertanian Siapkan Nama Calon Wakil Menteri Baru Pendampingnya

Di sisi lain, rezim Ortega di Managua juga pandai memainkan kartu diplomatik mereka. Tak lama setelah AS melancarkan operasi terhadap Venezuela di awal tahun, Nikaragua mengirimkan sinyal kompromi dengan membebaskan puluhan tahanan politik yang diminta Washington. Mereka juga kembali menerapkan syarat visa bagi warga Kuba demi menekan gelombang migrasi ke utara. Meskipun AS sempat menjatuhkan sanksi baru kepada wakil presiden dan dua putra Ortega pada April lalu, tindakan tersebut dinilai lebih bersifat simbolis ketimbang upaya nyata untuk meruntuhkan rezim.

Menurut Manuel Orozco dari Inter-American Dialogue, kehati-hatian Washington berakar pada kekhawatiran akan dampak buruk yang tidak terprediksi. Intervensi yang terlalu agresif saat ini dikhawatirkan justru memicu krisis kemanusiaan baru, lonjakan migrasi massal, atau represi politik yang lebih brutal oleh rezim Sandinista. AS tampaknya lebih memilih strategi jangka panjang dengan membiarkan stagnasi politik internal dan kesulitan ekonomi melemahkan rezim Ortega dari dalam secara perlahan, sembari terus mendorong reformasi bertahap menjelang pemilu 2027.

Also Read

Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Retorika anti-Amerika yang sering digaungkan Ortega pun dinilai para pengamat hanya berfungsi sebagai konsumsi politik domestik untuk menjaga loyalitas basis pendukungnya. Di balik layar, stabilitas rezim saat ini masih cukup kuat berkat kendali ketat atas aparat keamanan. Dengan usia Ortega yang kini menginjak 80 tahun, peran istrinya sekaligus Wakil Presiden Rosario Murillo menjadi kian dominan, diiringi spekulasi suksesi kepada putra mereka, Laureano Ortega. Alih-alih perubahan kekuasaan yang demokratis, masa depan Nikaragua tampaknya akan tetap berada di bawah cengkeraman dinasti keluarga tersebut, sebuah realitas yang tampaknya siap ditoleransi oleh Washington untuk saat ini.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca