Direktur Utama PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) Leo Yulianto Sutedja menyoroti pergeseran drastis pada peta persaingan kawasan industri di Indonesia seiring maraknya ekspansi bisnis kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data center). Ketersediaan lahan luas dan letak geografis strategis kini tidak lagi menjadi jaminan utama untuk menarik minat pemodal.
Menurut Leo, sektor industri berbasis digital memiliki standar operasional yang berbeda dengan manufaktur konvensional. Bisnis data center dan AI membutuhkan infrastruktur dengan tingkat keandalan yang sangat tinggi karena potensi gangguan pada arus listrik maupun jaringan internet dapat berdampak fatal secara langsung terhadap kelangsungan operasional.
Danantara Tepis Isu Kredit Macet, Pinjaman Dijamin Negara Pasti Aman

Perubahan kebutuhan tersebut membuat infrastruktur bergeser dari sekadar fasilitas pendukung menjadi faktor penentu utama daya saing kawasan industri dalam merebut investasi baru. Kriteria penentu kini melebar ke aspek kepastian pasokan daya, keandalan konektivitas digital, serta ruang untuk ekspansi di masa depan.
Pengembang dan pengelola kawasan industri di Kabupaten Bekasi tersebut menilai integrasi pasokan daya (power), air (water), dan serat optik netral (neutral fiber) wajib disiapkan sejak tahap awal. Fondasi ini mutlak diperlukan agar investor tidak perlu membangun sarana dasar secara mandiri dari awal saat memulai proyek.
Literasi Keuangan RI Lampaui Target 2029, Lebih Cepat 3 Tahun

Leo menegaskan, tantangan mendasar pada industri AI dan pusat data tidak sebatas pada besaran kapasitas daya yang siap dialokasikan, melainkan kemampuan pengelola kawasan menyalurkan daya tersebut secara andal serta mengembangkannya selaras dengan dinamika pertumbuhan kebutuhan para penyewa.






