Harga minyak mentah dunia kembali melonjak hingga menyentuh US$91,05 per barel pada perdagangan Selasa (1/9). Kenaikan harga komoditas energi ini terjadi seiring kembali memanasnya konflik militer terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Patokan minyak mentah Brent tercatat naik 56 sen atau 0,6 persen ke level US$91,05 per barel. Pada sesi perdagangan sebelumnya, Brent sempat melonjak 2,7 persen dan menyentuh posisi tertingginya sejak 25 Agustus. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 83 sen atau 1 persen menjadi US$86,59 per barel, melanjutkan reli sesi sebelumnya ketika harga naik 2,8 persen ke level tertinggi sejak 21 Agustus.
Eskalasi pasar dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut ke wilayah Iran. Peringatan tersebut menyusul aksi balasan Iran atas gempuran militer AS pada Minggu (30/8), yang menandai aksi saling serang pertama antara kedua negara dalam sebulan terakhir.
Dari Kekayaan ke Warisan, Pentingnya Perencanaan Lintas Generasi

Kekhawatiran pasokan global kian menguat lantaran terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Data Kpler menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintasi jalur krusial tersebut merosot hingga tersisa sekitar lima kapal per hari pada akhir pekan. Jalur yang menopang sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang akhir Februari itu sempat ditutup Iran menyusul serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Hingga kini, upaya mediasi yang dimotori Qatar dan Oman belum berhasil memulihkan jalur distribusi tersebut.
Risiko keamanan di perairan kawasan juga masih tinggi setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya kapal tanker yang terkena tiga proyektil saat keluar dari Selat Hormuz, kendati tidak menimbulkan korban jiwa maupun dampak lingkungan.
Populer, Prabowo Mau Tutup 700 BUMN; Danantara Bakal Gabung PTPP dan ADHI

Untuk meredam defisit energi domestik, Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan pengelolaan cadangan minyak Venezuela guna mengisi kembali Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS yang mendekati level terendah dalam 44 tahun. Sejumlah korporasi energi multinasional seperti Chevron, GE Vernova, ONGC, Eni, dan GeoPark kini tengah memfinalisasi perjanjian proyek energi di Venezuela.






