Wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, tengah menghadapi gelombang kedatangan puluhan ribu migran yang menyeberang dari Maroko dalam beberapa hari terakhir. Arus migrasi ini dilaporkan telah mencapai sekitar 40.000 orang yang berhasil memasuki wilayah Ceuta. Jumlah kedatangan tersebut dinilai sangat besar, terutama mengingat wilayah enklave Spanyol tersebut hanya memiliki populasi penduduk sekitar 80.000 jiwa. Kedatangan para migran ini tercatat terus berlangsung sejak Kamis malam, berlanjut pada Jumat dini hari, hingga Jumat pagi. Namun, perjalanan melintasi perbatasan ini telah memakan korban jiwa. Berdasarkan laporan yang ada, sedikitnya 18 orang telah dinyatakan tewas saat berusaha mencapai wilayah Ceuta dari Maroko.
Dalam upaya mereka untuk mencapai daratan Spanyol, ratusan migran yang terdiri dari pria, perempuan, dan anak-anak terlihat menempuh jalur air. Mereka berenang mengitari pagar pembatas yang memisahkan perbatasan antara Maroko dan Ceuta. Untuk menjaga diri agar tetap terapung, para migran ini menggunakan bantuan pelampung sederhana. Di tengah membeludaknya jumlah migran yang tiba di Ceuta, proses pengembalian juga terus dilakukan oleh pihak berwenang. Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan bahwa hingga hari Jumat (31/7) pada pukul 18.00 waktu setempat atau pukul 16.00 GMT, tercatat sebanyak 48.300 migran telah dikembalikan melintasi perbatasan menuju wilayah Maroko.
Merespons situasi yang berkembang di perbatasan ini, pemerintah Spanyol segera mengambil tindakan. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, bersama dengan Menteri Dalam Negeri dijadwalkan untuk melakukan kunjungan langsung ke pos perbatasan Tarajal pada hari Jumat (31/7). Wilayah Ceuta sendiri memiliki posisi yang sangat penting bagi Eropa. Bersama dengan Melilla, Ceuta merupakan wilayah enklave milik Spanyol di Afrika Utara. Kedua wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat yang menghubungkan Uni Eropa secara langsung dengan Benua Afrika, menjadikannya titik utama pergerakan migrasi.
5 Penyakit Nissan Lawas dan Biaya Perbaikannya, Wajib Tahu Sebelum Beli

Krisis di perbatasan Ceuta ini tidak hanya berdampak pada Spanyol, tetapi juga memicu dinamika diplomatik di antara negara-negara anggota Uni Eropa lainnya. Menanggapi masuknya puluhan ribu migran tersebut, Prancis mengumumkan bahwa mereka akan memperketat pemeriksaan di wilayah perbatasannya dengan Spanyol. Di sisi lain, Italia mengeluarkan seruan agar Spanyol ditangguhkan dari kawasan bebas perbatasan Schengen. Seruan dari Italia ini langsung memicu protes dari pemerintah Spanyol di Madrid. Sebagai bentuk keberatan, Madrid memanggil Duta Besar Italia dan menuding bahwa Roma memanfaatkan krisis migran ini untuk kepentingan politik.
Peristiwa lonjakan migran yang melintasi perbatasan Ceuta ini pernah terjadi pada tahun 2021. Pada saat itu, lebih dari 10.000 migran tercatat memasuki Ceuta dalam kurun waktu dua hari, setelah Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan. Ketegangan pada tahun 2021 tersebut dipicu oleh keputusan Madrid yang menerima pemimpin Front Polisario untuk menjalani perawatan medis. Front Polisario merupakan kelompok yang selama ini memperjuangkan kemerdekaan wilayah Sahara Barat dari Maroko.
Viral Rombongan Moge Cekcok dengan Pengendara Mobil di Ciputat, Tangsel, Ini Klarifikasi MBCI Bogor

Ketegangan bilateral antara Spanyol dan Maroko terkait isu tersebut mereda pada tahun 2022. Hal ini terjadi setelah Spanyol mengubah kebijakan lamanya dengan mendukung rencana Maroko terkait Sahara Barat. Meskipun langkah ini berhasil memperbaiki hubungan antara Madrid dan Maroko, perubahan kebijakan Spanyol pada tahun 2022 itu merenggangkan hubungan diplomatik Madrid dengan Aljazair. Hal tersebut terjadi karena Aljazair merupakan negara yang selama ini memberikan dukungan kepada Front Polisario.






