Mitos bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan umum atau IQ janin di kandungan, yang sering disebut sebagai Efek Mozart, masih banyak dipercaya oleh masyarakat. Padahal, gagasan ini bermula dari sebuah penelitian berskala kecil di University of California, Irvine, pada tahun 1993. Saat itu, psikolog Frances Rauscher dan rekan-rekannya menguji 36 mahasiswa. Hasilnya, kelompok mahasiswa tersebut mengalami peningkatan kemampuan penalaran spasial sementara, dengan skor tes IQ spasial rata-rata 8 hingga 9 poin lebih tinggi setelah mendengarkan musik karya komponis Wolfgang Amadeus Mozart dibandingkan saat hening atau mendengarkan instruksi relaksasi. Namun, peningkatan kemampuan tersebut bersifat temporal dan hanya bertahan selama 10 hingga 15 menit.
Setelah publikasi penelitian ilmiah tersebut, temuan ini menyebar luas. Dr. Rauscher menerima panggilan telepon dari Associated Press dan diwawancarai oleh Tom Brokaw dalam siaran berita malam. Ia bahkan sempat menerima ancaman pembunuhan setelah media salah mengutip pernyataannya, seolah-olah ia menyiratkan bahwa musik rock berdampak buruk bagi otak. Dua ilmuwan dari Stanford University kemudian menemukan bahwa sejak tahun 1997 dan seterusnya, banyak artikel berita mulai mengubah narasi dengan membingkai temuan Rauscher pada objek bayi, bukan lagi mahasiswa. Pergeseran narasi ini semakin diperkuat oleh pencanangan tahun 1990-an sebagai Decade of the Brain oleh Presiden George H. W. Bush, serta peluncuran buku terlaris karya Don Campbell pada tahun 1997 yang berjudul The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit.
Jumlah Pelayanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Nasional Capai 78 Juta Peserta

Secara sosiologis, doktor di bidang pendidikan Cl茅mentine Beauvais pada tahun 2015 menganalisis bahwa pergeseran fokus dari mahasiswa ke bayi ini berkaitan dengan kecemasan pada pertengahan abad ke-20 mengenai kemampuan membesarkan anak-anak yang sukses. Rauscher sendiri telah menegaskan bahwa efek Mozart terbatas pada penalaran spasial-temporal dan tidak mencakup peningkatan kecerdasan umum. Pada tahun 1997, Rauscher dan Shaw memang menerbitkan studi yang menunjukkan peningkatan kemampuan memanipulasi bentuk di ruang spasial pada anak-anak, tetapi hasil itu diperoleh melalui pelatihan musik bermain piano, bukan sekadar mendengarkan musik. Selain itu, eksperimen tim Rauscher pada tahun 1998 terhadap hewan pengerat yang diperdengarkan Sonata K.448 saat masih bayi menunjukkan kemampuan menavigasi labirin yang lebih unggul dibandingkan kelompok lain.
Berbagai penelitian lanjutan perlahan mematahkan mitos kecerdasan ini. Analisis meta pada tahun 1999 menunjukkan bahwa peningkatan kognitif akibat mendengarkan musik Mozart sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali. Tinjauan pada era 2000-an juga mengonfirmasi tidak adanya bukti bahwa mendengarkan musik klasik secara pasif dapat meningkatkan perkembangan kognitif pada bayi. Rauscher kembali menegaskan posisinya baru-baru ini. "Tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa anak-anak yang mendengarkan musik klasik akan mengalami peningkatan kemampuan kognitif," ujar Rauscher, dikutip dari The Classical Station pada Kamis, 11 September 2025.
Warga Kompleks Melong Green Garden Cimahi Serentak Pasang Spanduk Protes Pabrik Coklat

Meskipun mitos peningkatan IQ tidak terbukti, sains menunjukkan bahwa musik tetap memengaruhi otak. Jurnal karya J.S. Jenkins tahun 2021 di National Library of Medicine menjelaskan bahwa belahan otak kiri manusia membedakan ritme dan nada, sedangkan belahan otak kanan memproses timbre dan melodi. Pemindaian otak juga memperlihatkan bahwa tugas spasial-temporal dan pemrosesan musik mengaktifkan area yang tumpang tindih, termasuk wilayah prefrontal, temporal, dan precuneus. Selain itu, tinjauan sistematis oleh Movalled dan tim pada tahun 2023 menunjukkan bahwa bayi telah mempelajari stimulus suara yang diberikan sejak masih berupa janin. Studi lain pada tahun 2026 oleh Amy Rose Hunter dan tim yang menganalisis 28 studi dengan 2.835 peserta menemukan bahwa intervensi berbasis musik membantu mengurangi kecemasan serta rasa nyeri selama proses persalinan pervaginam maupun operasi caesar.






