Pasar keuangan dalam negeri menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada pertengahan pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada perdagangan hari Rabu (19/8/2026). Berdasarkan data dari Bloomberg, mata uang rupiah dibuka di level Rp17.861 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan penguatan sebesar 1 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Tren penguatan ini terus berlanjut hingga akhir perdagangan hari Rabu (19/8/2026), di mana rupiah berhasil ditutup dan parkir di level Rp17.840 per dolar AS.
Sebelum mengalami penguatan pada hari Rabu, rupiah sempat berada di bawah tekanan pada perdagangan hari Selasa (18/8). Tekanan terhadap rupiah pada hari Selasa tersebut terjadi di tengah momentum pelemahan dolar AS. Pelemahan mata uang Negeri Paman Sam dipicu oleh rilis data penjualan ritel Amerika Serikat untuk bulan Juli yang secara mengejutkan menunjukkan penurunan. Di samping itu, pasar global juga dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang kembali melonjak. Kenaikan harga minyak dunia ini terjadi setelah adanya pernyataan dari Donald Trump yang menyatakan bahwa dirinya tidak terburu-buru untuk menghentikan perang melawan Iran.
Pemerintah Perpanjang Insentif PPN DTP 100 Persen untuk Pembelian Properti Hingga 2027

Di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik tersebut, para pelaku pasar juga mencermati agenda penting di dalam negeri. Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 18 hingga 19 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi salah satu fokus perhatian karena keputusan-keputusan yang diambil dapat memengaruhi arah pergerakan nilai tukar rupiah serta stabilitas pasar keuangan domestik secara keseluruhan di tengah berbagai sentimen eksternal yang sedang berkembang.
Berbeda arah dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang menguat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi. Pada pembukaan sesi perdagangan, nilai indeks saham langsung terjun ke level 6.408,177. Data dari RTI Business menunjukkan bahwa pergerakan IHSG setelah pembukaan cenderung lesu dan berada di zona merah. Sepanjang perdagangan awal tersebut, indeks saham terpantau bergerak fluktuatif dalam rentang batas bawah di level 6.373,810 hingga batas atas di level 6.414,886.
Alasan Pengusaha Menahan Perekrutan Karyawan dan Potensi Sektor Padat Karya

Kelesuan IHSG pada awal perdagangan ini tercermin dari komposisi pergerakan saham di bursa. Tercatat sebanyak 316 saham bergerak melemah atau mengalami penurunan, sementara hanya 174 saham yang berhasil mengalami kenaikan atau menguat. Adapun 185 saham lainnya terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Meskipun indeks bergerak di zona merah, aktivitas perdagangan tetap berjalan cukup aktif dengan nilai total transaksi pada awal pembukaan pasar mencapai Rp1,25 triliun. Nilai transaksi tersebut diperoleh dari hasil penjualan sebanyak 3,75 miliar lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 233.217 kali.






